********************************
AJInews EDISI SELASA 3 MARET 1998
MEGAWATI TOLAK PERTANGGUNG-JAWABAN SOEHARTO
JAKARTA (AJInews, 3/3/98)-- Tokoh oposisi nomor satu Indonesia, Megawati
Soekarnoputri, Selasa sore tadi mengeluarkan penolakannya terhadap pidato
pertanggung-jawaban presiden Soeharto dalam Sidang Umum (SU) Majelis
Permusyawaratan Rakyat (MPR). Pidato pertanggung-jawaban itu sendiri,
disampaikan Soeharto di hari pertama SU-MPR, tanggal 1 Maret lalu.
Megawati menyampaikan pernyataan itu di hadapan sekitar seratus wartawan
dalam dan luar negeri, di kediamannya di kawasan Kebagusan, Jakarta
Selatan. Hadir dalam kesempatan itu antara lain Sekjen PDI Alex Litaay,
Wakil Sekjen PDI, Haryanto Taslam, aktivis yang terkenal dalam gerakan
mahasiswa tahun 1978, Heri Ahmadi, diplomat dari Kedutaan Besar Amerika
Serikat, Belanda, dll.
Dengan tegas Megawati menilai, bahwa sebagai mandataris MPR, Soeharto telah
gagal dalam melaksanakan Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN dan Trilogi
Pembangunan, yang ditetapkan dalam SU MPR 1993 lima tahun lalu. Karena
itu, atas nama Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia (PDI), Megawati secara
tegas menyatakan, "atas nama warga dan simpatisan PDI yang berjumlah +/- 20
juta orang dengan tegas menolak pertanggung-jawaban presiden mandataris MPR
masa jabatan 1993-1998," demikian Mega dalam pernyataan 6 butir bertajuk
"Pernyataan Politik Partai Demokrasi Indonesia".
Dalam pernyataan yang disampaikan hanya beberapa saat setelah bekas wakil
presiden AS Walter Mondale atas nama presiden Clinton menemui Soeharto
secara khusus, Mega menandaskan, bahwa Soeharto harus memberikan
pertanggung-jawaban yang lebih lengkap, jujur, dan obyektif.
Dengan pernyataan itu, gerakan Megawati makin terarah langsung ke pusat
kekuasaan. Sesuatu yang telah ia mulai dalam "Pesan Moral Megawati
Soekarnoputeri," yang disampaikannya pada acara Halal Bihalal 1418 H di
tempat yang sama, 9 Pebruari 1998 lalu. Dalam kesempatan kali ini, Megawati
kembali menyinggung keprihatinannya, bahwa di tengah kemiskinan puluhan
juta rakyat Indonesia, di tengah kebangkrutan ekonomi Indonesia, ternyata
Soeharto memiliki kekayaan dalam jumlah yang tak masuk akal: 16 milyar
dolar AS, atau sekitar 16 trilyun dihitung dengan kurs sekarang.
"Di tengah suasana kebangrutan ekonomi negara, berita tentang kekayaan
Presiden Soeharto pribadi sejumlah US$ 16 Milyar sebagaimana ditulis
majalah "Forbes" terbitan 28 Juli 1997, seharusnya menjadi bagian dari
pertanggung-jawaban pribadi Presiden/Mandataris MPR 1993/1998 kepada
seluruh rakyat Indonesia," tandas Mega.
Berikut ini adalah teks lengkap pernyataan Megawati.
--------------------------------------------------------------------
PERNYATAAN POLITIK
PARTAI DEMOKRASI INDONESIA
DEWAN PIMPINAN PUSAT PARTAI DEMOKRASI INDONESIA
(DPP-PDI)
Alarnat Jalari Diponegoro No. 58 TeIp.(021)
336331Jakarta 10310
Setelah mendengar, mencermati dan mendalami dengan seksama isi
pidatopertanggung jawaban Presiden/Mandataris MPR masa jabatan1993-1998
yang disampaikan pada tanggal 0l Maret 1998 di depan Sidang Umum MPR, dalam
kenyataan terdapat hal-hal sangat mendasar yang sengaja diabaikan dan
tidakdisampaikan secara jujur dan terbuka dipertanggung-jawabkan, khususnya
yang terkait dengan pelaksanan Undang-undang Dasar 1945 dan Garis-garis
Besar Haluan Negara.
Dari kenyataan kehidupan berbangsa dan bernegara yang kami alami selama
ini, maka kami menilai bahwa
1. Pembangunan bidang politik dan hukum yang seharusnya sebagai manifestasi
Indonesia sebagai negara hukum ("rechtstaat") yang menjunjung tinggi
kedaulatan rakyat sebagaimana amanat UUD 1945, telah sangat terabaikan dan
bahkan dalam praktek selama ini telah digeser ke arah kehidupan bcrbangsa dan
bernegara yang semata berdasarkan kekuasaan ("machtstaat");
2. Penyelenggaraan Pemilihan Umum yang dijadikan satu-satunya pembuktian
tegaknya kedaulatan rakyat dan kesuksesan pelaksanaan demokrasi Pancasila;
justru merupakan bukti yang sangat nyata bahwa asas kedaulatan rakyat
digusur dengan cara pemaksaan kehendak kekuasaan yang dibukktikan melalui
rekayasapolitik kekuasaan yang puncaknya melahirkan peristiwa 27 Juli 1996
bcrdarah yang menjadi keprihatinan nasional maupun dunia internasional;
3. Krisis moneter dan ekonomi yang berlanjut dengan krisis yang meluas di
segala bidang dan pada akhirinya bermuara pada krisis kepercayaan rakyat
tcrhadap pemerintah; berdasarkan penilaian kami justru merupakan bukti
bahwa segala sesuatu yang dikatakan sebagai sukses pembangunan nasional
selama ini ternyata dibangun di atas dasar yang semu yang penuh dengan
rekayasa, manipulasi, seiring dengan merajalelanya praktek-praktek
korupsi, kolusi dan nepotisme yang selama ini dibiarkan menggerogoti
mental, moral dan sikap hidup bangsa;
4. Kerusuhan yang terjadi hampir di seluruh daerah selama tahun-tahun
terakhir ini, membuktikan bahwa ancaman terhadap stabilitas nasional semaik
melebar dan membesar sebagai akibat dari kebijakan pemerintah dan
kepemimpinan nasional yang dirasakan tidak terbuka, penuh rekayasa, tidak
adil dan melecehkan kedaulatan rakyat. Dalam hal ini ketidak-percayaan
rakyat semakin dipertebal dengan kenyataan bahwa seluruh institusi
peradilan (lembaga yudikatif) dan lembaga perwakilan (Legislatif) telah
sepenuhnya terkooptasi di bawah pengaruh tekanan kekuasaan;
5. Pertumbuhan ekonomi bukan hanyasurut ke titik nol, tetapi justru
menjadikan semakin besarnya utang luar negeri (+/- US$ 140 Milyar) yang
sangat membebani rakyat dan membuat perekonomian bangsa menjadi sangat
bergantung pada bantuan (kekuatan) luar negeri. Sementara pemerataan sama
sekali tak terbukti karena yang nyata terasa adalah melebarnya jurang
sosial antara kaya-miskin. Sedangkan stabilitas nasional berada dalam
kondisi kritis dan berpotensi rawan perpecahan;
6. Di tengah suasana kebangrutan ekonomi negara, berita tentang kekayaan
Presiden Soeharto pribadi sejumlah US$ 16 Milyar sebagaimana ditulis
majalah "Forbes" terbitan 28 Juli 1997, seharusnya menjadi bagian dari
pertanggung-jawaban pribadi Presiden/Mandataris MPR 1993/1998 kepada
seluruh rakyat Indonesia.
Berdasarkan penilaian obyektif yang kami lakukan ini sehubungan dengan
kegagalan presiden/mandataris MPR melaksanakan amanat GBHN dan Trilogi
Pembangunan (pertumbuhan ekonomi, pemerataan hasil pembangunan, dan
stabilitas nasional, maka kami atas nama warga dan simpatisan PDI yang
berjumlah +/- 20 juta orang dengan tegas menolak pertanggung-jawaban
presiden mandataris MPR masa jabatan 1993-1998.
Selanjutnya kami mendesak presiden/mandataris MPR masa jabatan 1993-1998
untuk memberikan pertanggung-jawaban yang lebih lengkap, jujur, dan
obyektif, yang harus sesuai amanat dan petunjuk pelaksanaan konstitusi (UUD
1945 dan GBHN) secara benar dan sungguh-sungguh sebagaimana mestinya
pertanggung-jawaban kenegaraan dilakukan.
Jakarta, 03 Maret 1998
DEWAN PIMPINAN PUSAT
PARTAI DEMOKRASI INDONESIA
1993 - 1998
Ketua Umum
Sekretaris Jenderal,
Megawati Soekarnoputri
Alex Litaay
ALIANSI JURNALIS INDEPENDEN
Alliance of Independent Journalists
Jl. PAM Baru Raya 16, Pejompongan,
Jakarta, Indonesia
Tel/Fax : (62-21) 5727018
E-mail :
----------------------------------------
AYO SELAMATKAN INDONESIA!
untuk Indonesia yang menjamin hak atas kebebasan pers,
hak masyarakat untuk memperoleh informasi,
hak masyarakat untuk mengetahui apa yang terjadi
***********************************
AJInews EDISI SENIN 9 MARET 1998
Redaksi AJInews menerima seruan Gerakan Pembaharu Indonesia (GPI), berikut
ini.
SERUAN NASIONAL
MENUNTUT PERTANGGUNGJAWABAN MPR-RI
"RAKYAT ADALAH PEMILIK SAH KEDAULATAN DI NEGERI INI"
Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) yang bersidang di Jakarta pada 1 -
11 Maret 1998, telah gagal menjawab tuntutan rakyat yang disampaikan
melalui berbagai organisasi, tokoh masyarakat, maupun perorangan. Sampai
Sidang Umum (SU) MPR yang menelan biaya tak kurang 45 miliar rupiah
berakhir, rakyat tidak mendapat jawaban memuaskan atas sederet
permasalahan berikut ini :
1. MPR tidak mampu meminta pertanggungjawaban Presiden RI
selaku mandataris tentang krisis ekonomi-politik yang menyebabkan
kenaikan harga barang-barang kebutuhan pokok, hilangnya pekerjaan jutaan
warga negara, bangkrutnya ribuan usaha rakyat, serta akibat-akibat lain
yang secara nyata telah menyengsarakan rakyat di kawasan kota maupun
pedesaan.
2. MPR tidak memperdulikan rusaknya sendi-sendi kehidupan bernegara
dengan membiarkan praktek-praktek korupsi, kolusi (penyalahgunaan
jabatan dan wewenang), serta nepotisme (pemberian keistimewaan kepada
kerabat pejabat) berlangsung di hampir semua tingkat birokrasi.
3. MPR tidak mendengarkan aspirasi/tuntutan rakyat, khususnya tentang
pergantian (suksesi) pemimpin nasional yang telah berlangsung selama
lebih 30 tahun. Bahkan, untuk ketujuh kalinya sejak 1967, MPR hanya
mampu menghasilkan satu orang (calon) Presiden, yaitu Jenderal Purn.
Soeharto.
4. MPR telah menyalahartikan "Demokrasi Pancasila" menjadi budaya
yes-men, kebiasaan mohon petunjuk, dan kebijakan serba-setuju, yang
menyebabkan terabaikannya aspirasi rakyat sebagai pemilik sah kedaulatan
tertinggi di negeri ini.
5. Yang paling parah, rakyat semakin kehilangan kepercayaan kepada
hukum dan aparat pemerintah, karena rasa keadilan terbiasa ditundukkan
oleh kekuasaan dan uang.
Memperhatikan semua kenyataan tadi, kami MENYERUKAN kepada pemuda,
mahasiswa, kaum pekerja, profesional, petani, nelayan, sopir, seniman,
ibu rumah tangga, pegawai negeri, pedagang, aktivis politik, anggota
ABRI, atau siapapun, tua maupun muda, yang mendambakan perubahan, untuk
DATANG dengan DAMAI pada :
RABU, 11 MARET 1998, JAM : 10.00 WIB
Di Gedung MPR-DPR RI, Jln. Gatot Subroto Jakarta Pusat
guna menuntut pertanggung jawaban MPR-RI, sekaligus menegaskan keinginan
rakyat bagi perubahan dan pembaruan yang lebih baik di tanah air
tercinta, Indonesia.
DATANG dan SUARAKAN amanat penderitaan kita. Kehadiran kita di gedung
MPR-DPR adalah hak setiap warga negara yang dijamin dan dilindungi oleh
Undang Undang.
Gerakan Pembaharu Indonesia
Ketua Presidium,
Ir. HERI AHMADI
Ketua Dewan Mahasiswa Institut Teknologi Bandung 1978
*************************************
********************************
Received on Fri Mar 6 02:53:10 MET 1998
From: GPDI
Subject: MISTERI SU-MPR 1998
MISTERI SU-MPR 1998
___________________
Menjelang sidang umum MPR 1998 yang berlangsung dari tanggal
1 - 11 Maret, situasii politik Indonesia banyaak diwarnai
hal-hal misterius menyangkut kelompok-kelompok gerakan pro
demokrasi maupun gerakan militer.
Sumber-sumber di Indonesia menyebutkan bahwa satu bulan
menjelang SU-MPR dimulai, banyak aktivis pro demokrasi
"hilang" entah kemana. Berita kehilangan tersebut telah
dilaporkan ke Komisi Nasional Hak Azasi Manusia (Komnas
HAM) di Jakarta oleh keluarga dan kerabat mereka. Sampai
dengan hari ini Komnas HAM belum dapat mendeteksi kemana
hilangnya para aktivis tersebut.
Sumber lain menyebutkan bahwa ribuan anggota militer
"menghilang" dari kesatuannya. Sedikitnya separo dari
anggota Batalyon Kaveleri yang bermarkas di Cijantung dan
beberapa pasukan dibawah Kodam III Siliwangii dan Kodam IV
Diponegoro ditambah dua kompi pasukan gabungan yang
diterjunkan untuk menangani kerusuhan di Pantura
"menghilang" dengan membawa persenjataan lengkap dan
amunisi cadangan.
Sementara itu Kodam V Jaya dan Polda Metro Jaya telah
menyiagakan pasukan cadangan yang akan siap diterjunkan
untuk memperkuat 25.000 pasukan gabungan Kodam V dan Polda
Metro dibawah komando Pangdam V Jaya Mayjed Sjafrie
Sjamsoeddin. Penyiagaan pasukan cadangan ini kemungkinan
untuk menangkal gerak pasukan Kodam III Siliwangi yang
bermarkas di Bandung, Subang, Cianjur, Cimahi dan Serang
serta pasukan dari Arhanudri dan kesatuan Kaveleri Kujang
maupun dari kesatuan-kesatuan lain yang tidak terdeteksi
yang kini telah tersebar di pinggiran Jakarta, seperti
Bekasi, Tangerang dan Bogor.
Apa yang sesungguhnya sedang terjadi di Indonesia, adalah
suatu tanda tanya besar yang harus segera dicari jawabannya.
Apakah suatu power game sedang dimainkan di Indonesia?
Siapa yang bermain dengan kelompok bersenjata, serta bagai-
mana peta kekuatan gerakan sipil? Adalah sesuatu yang harus
kita analisa bersama.
Ada beberapa kemungkinan yang dapat kita analisaa disini.
Pertama, telah terjadi kolaborasi kekuatan sipil dan
kelompok militer progresif. Sikap kelompok militer yang
menyempal dari induk organisasinya ini kemungkinan besar
lebih disebabkan karena kejenuhaan dan kefrustasian mereka
terhadap sistem yang selama ini juga mengekang mereka. Suatu
realita yang tidak bisa dipungkiri di Indonesia, walaupun
secara garis komando setiap prajurit harus loyal kepada
kesatuan dan atasannya, pada kenyataannya keluarga militer
di Indonesia termasuk kelompok masyarakat marginal yang juga
berada dalam garis kemiskinan. Dalam kondisi seperti ini
dan dengan keadaan ekonomi Indonesia yang sedang terpuruk,
mereka pun juga marah karena keluarga mereka juga lapar.
Para petinggi tidak bisa terus-menerus mensuplai kebutuhan
para prajurit beserta keluarganya secara optimal. Kondisi
ini membuka peluang bagi terjalinnya kerjasama kekuatan
bersenjata dengan sipil dan bersama-sama merancang strategi
gerakan. Guna efektif dan terkendalinya gerakan, semua
kekuatan berada dalam camp-camp konsentrasi. Karena ini
merupakan gerakan laten, maka tidak banyak yang
mengetahuinya, sehingga muncul istilah "hilang" dan
"menghilang" tadi.
Kedua, para aktivis demokrasi di Indonesia "menghilang"
untuk mengatur strategi gerakan mereka setelah mengetahui
banyak pasukan siluman yang berkeliaran di Jakarta. Pasukan
siluman ini kemungkinan besar berasal dari kelompok
pasukan yang "menghilang" dari kesatuannya dan ini
merupakan ancaman serius bagi para aktivis.
Ketiga, para aktivis demokrasi "menghilang" karena
ketegangan yang berkembang sekarang ini telah menjurus pada
ketegangan bersenjata. Isu perpecahan di tubuh ABRI dan
membelotnya ribuan pasukan dari kesatuannya memang perlu
diwaspadai. Kemungkinan terjadi konflik bersenjata secara
terbuka di Indonesia dapat memakaan korban siapapun.
Keempat, para aktivis demokrasi di Indonesia benar-benar
"hilang" dilibas oleh pasukan siluman tersebut. Karena tidak
menutup kemungkinan militer akan menjalankan operasi khusus
mirip "Petrus" (penembak misterius) -- yang sukses besar
dalam menumpas para preman di Indonesia padaa akhir tahun
1970 sampai awal 1980-an. Kemungkinan ini cukup besar bila
kita kaitkan pula bagaimana ABRI memainkan peranan dalam
kasus Santha Crus Timor Timur maupun penyerbuan markas PDI
dari tangan kelompok pendukung Megawati beberapa waktu
lalu, kasus-kasus ini mencatat ratusan orang hilang dan
tidak diketemukan sampai sekarang.
Apa yang sesungguhnya terjadi di Indonesia dan bagaimanaa
kita harus menyikapinya, adalah sesuatu yang secara tegas
harus kita jawab sekarang ini. Ada beberapa hal yang dapat
kita lakukan untuk membantu gerakan demokrasi di Indonesia.
Pertama, mewartakan apa yang sekarang terjadi di Indonesia
kepada seluruh jaringan pro demokrasi di seluruh dunia
sekaligus mengkampanyekan kebobrokkan pemerintahan Suharto
beserta kasus-kasus pelanggaran hak azasi.
Kedua, menumbuhkan opini massa dan menggalang demonstrasi
secara besar-besaran di seluruh duniaa untuk mempengaruhi
kebijakan pemerintah negara-negara di dunis dan
lembaga-lembaga moneter interneasional untuk memblokir semua
bantuan mereka ke pemerintah Indonesiia serta tidak
memberikan pengakuan terhadap hasil SU-MPR 1998.
Ketiga, melalui opini massa dan demonstrasi, mendesak para
pemimpin dunia untuk menekan Jend. (Purn) Suharto meletakan
jabatan dan mengembalikan kekuasaannya kepada rakyat
Indonmesia. Mendesak Dewan Keamanna PBB untuk membaantu
memulihkan hak-hak sipil warga negara dan terbentuknya
pemerintahan sipil di Indonesia.
Langkah-langkah strategis ini sangat mungkin dilaksanakaan
mengingat mata dunia sekarang sedang tertuju ke Indonmesiaa.
Dan kasus pencemaran udara akiibat dari kebakaranm hutan di
Indonesia beberapa waktu lalu juga masih menjadi luka yang
sangat mudah menimbulkan kemarahan internasional terhadap
rezim Suharto.
Sekarang tergantung pada diri kita masing-masing. Apakah
kita yang selama ini menyebut diri sebagai para aktivis dan
pendukung gerakan demokrasi di Indonesia mau secara
sungguh-sungguh melakukan itu atau tidak? Kesempatan tidak
pernah datang setiap waktu. Taktik dan strategi memang
diibutuhkan dalam setiap gerakan. Perhitungan-perhitungan
matang yang berlandaskan pada analisa-analisa tajam memang
perlu dilakukkan, dan ini adalah proses kedewasaan
berpoliitik. Tapi akankah kkita terus bicara proses tanpa
pernah tahu kapan momentum yang tepat untuk bertindak?
Solidarity for the Indonesian Democracy Movement.
==============================================================
CSVI / GPDI
Coordinationgroup for Support to the People's Resistance in Indonesia
/Supporting Movement for the Democratisation in Indonesia
* SUPPORT PRO-DEMOCRATIC MOVEMENT!
* REPEAL 5 PACKGES ANTI-DEMOCRATIC LAW '85!
* END ARMS TRADE!
* FREE ALL POLITICAL PRISONERS!
* REFERENDUM FOR MAUBERE PEOPLE!
visit to WWW at: http://www.xs4all.nl/~peace
E-mail: [email protected]
Kompas Online
_________________________________________________________________
Senin, 2 Maret 1998
_________________________________________________________________
Obyektif, Namun Soal Kelemahan Perlu Dijelaskan Lebih Rinci
Jakarta, Kompas
Meskipun secara umum berbagai kalangan menilai pidato
pertanggungjawaban Presiden/Mandataris MPR cukup obyektif, namun
mereka tetap mengharapkan penjelasan lebih rinci mengenai berbagai
kelemahan di dalam pengelolaan negara. Antara lain, masalah korupsi,
kolusi dan monopoli yang menjadi salah satu penyebab lemahnya
fundamental ekonomi Indonesia dalam menghadapi krisis saat ini.
Demikian rangkuman berbagai pendapat yang dihubungi secara terpisah
seusai pidato pertanggungjawaban Presiden Soeharto di depan Sidang
Umum MPR, Minggu (1/3), di Gedung DPR/MPR.
Wakil Sekretaris F-KP MPR Din Syamsudin mengatakan, pidato Presiden
Soeharto merupakan bentuk pertanggungjawaban dari apa yang diamanatkan
MPR. Isinya cukup obyektif, terbuka dengan data berbagai kelebihan dan
kelemahannya, sudah memenuhi nuansa bagaimana sebuah
pertanggungjawaban disampaikan. Soal apakah F-KP MPR akan menerima
pertanggungjawaban Presiden Soeharto, masih akan dibicarakan oleh
intern fraksi. "Pernyataan Presiden Soeharto bahwa ternyata
fundamental ekonomi kita tidak cukup kuat sehingga muncul krisis,
tidaklah bisa dianggap sebagai kegagalan. Pertanggungjawaban beliau
itu menyeluruh, tidak parsial dan tidak hanya melihat apa yang terjadi
enam bulan terakhir," kata Din.
Menurut Wakil Sekretaris FKP MPR ini, tolok ukur keberhasilan Presiden
Soeharto adalah GBHN yang merupakan amanat MPR. Selama masa jabatannya
bisa melaksanakan amanat tersebut, ya tidak gagal. Sejauh ini
fraksinya tidak melihat atau memikirkan untuk memberikan catatan
terhadap pidato pertanggungjawaban Presiden Soeharto.
Anggota MPR Theo L Sambuaga yang juga Ketua Fraksi DPR mengatakan,
pidato pertanggungjawaban presiden ini memiliki bobot khusus.
Terutama, presiden secara gamblang menjelaskan perkembangan terakhir
di bidang sosial politik dan ekonomi. Bahkan secara khusus, tanpa mau
menutup-nutupi, presiden berupaya merinci situasi dan kondisi
Indonesia selama tujuh bulan belakangan ini. "Dari sudut pandang ini,
terlihat betapa besar komitmen Pak Harto terhadap persoalan-persoalan
yang menyangkut hajat hidup rakyat. Jadi, sama sekali tidak betul
anggapan orang mengatakan, presiden tidak tahu apa sesungguhnya yang
sedang dihadapi rakyatnya," kata Theo.
Kemungkinan catatan
Wakil Ketua DPR/MPR Ismail Hasan Metareum mengemukakan, masalah
politik memang tidak banyak disinggung dalam pertanggungjawaban
presiden, karena kemungkinan masalah itu akan dibahas dalam
pemandangan umum semua fraksi. "Masalah politik barangkali dirasakan
sudah dilakukan tetapi masih belum sempurna. Masih jauh sekali. Bidang
politik memang masih jauh sekali dari apa yang kita harapkan selama
ini. Jadi, apa yang dilaporkan (tentunya) belum banyak, kalau memang
belum banyak perubahan yang dilakukan," ujar Buya.
Mengenai kemungkinan adanya catatan yang akan diberikan F-PP terhadap
pidato pertanggungjawaban presiden, menurut Buya hal itu akan
digambarkan semuanya dalam pemandangan umum fraksi hari Rabu (4/3).
Menurut sebuah sumber di F-PP, F-PP akan menyertakan catatan dalam
menanggapi pidato pertanggungjawaban presiden.
Buya juga mengatakan, masalah-masalah seperti kolusi, korupsi, dan
monopoli - yang oleh banyak kalangan pengamat di-nilai berpengaruh
terhadap lemahnya fundamental ekonomi Indonesia - tidak akan ditemui
dalam pertanggungjawaban presiden. "Yang akan menyinggung dan menilai
masalah itu nanti fraksi-fraksi. Presiden hanya melaporkan apa yang
dilakukan. Presiden 'kan tidak melakukan korupsi. Yang melakukan itu
kan pegawai-pegawai yang memegang proyek," katanya.
Dikatakan, apa yang terjadi saat ini harus menjadi peringatan bagi
bangsa Indonesia di masa depan. Tinggal kita pikirkan harus bagaimana
menanggulanginya. Hal senada juga dikemukakan Ketua Fraksi PPP DPR,
Jusuf Syakir. Ia mengaku terkejut karena masalah korupsi dan kolusi
tidak disinggung dalam pidato Presiden.
Pernyataan terbuka
Ketua F-PDI MPR Buttu R Hutapea secara khusus menyoroti pernyataan
Presiden kepada semua pihak untuk melihat yang kurang itu kurang dan
yang baik itu baik.
Menurut Butu, musibah nasional yang dialami Indonesia saat ini selain
disebabkan adanya badai dari luar, juga karena ada kelemahan dari
dalam antara lain masalah korupsi, kolusi, dan monopoli.
Mengenai apakah masalah tersebut akan menjadi catatan PDI dalam
pemandangan umum nanti, Hutapea mengatakan, "Dalam pemandangan umum
akan kami bahas itu. Artinya bagaimana mengatasi hal itu, karena ini
adalah kelemahan yang harus segera diatasi."
Lain halnya dengan Ketua Umum DPP PDI, Soerjadi, yang mengaku kecewa
karena pidato pertanggungjawaban Presiden tidak menyangkut persoalan
politik. Dikatakan, semangat yang ada dalam pemerintahan Orde Baru
adalah semangat yang hanya mengedepankan masalah ekonomi dan kurang
memberikan porsi di bidang politik.
Ketua Umum PPK Kosgoro, Bambang W Soeharto, yang ditanya mengenai
tidak dibahasnya masalah hak asasi manusia (HAM) dalam pidato
pertanggungjawaban presiden, mengatakan, hal itu sudah tergambar dalam
GBHN meski secara eksplisit tidak disebutkan. Secara garis besar dia
setuju dengan apa yang disampaikan Presiden.
Tolak intervensi
Panglima ABRI Jenderal TNI Wiranto menyoroti penegasan Presiden bahwa
bangsa Indonesia pasti mampu keluar dari krisis yang dialami saat
ini. "Adanya penegasan itu juga menunjukkan bahwa bangsa ini
sebenarnya tidak ingin diintervensi oleh bangsa asing," katanya.
Mengomentari mengenai minimnya materi mengenai politik dalam pidato
tersebut, anggota Panitia Ad Hoc (PAH) I BP MPR Letjen TNI Susilo
Bambang Yudhoyono mengatakan, Presiden telah menegaskan betapa
pentingnya stabilitas politik sebagai basis untuk membangun. "Presiden
mengerti betul soal itu bahwa memang ada beberapa gejolak yang terjadi
akibat krisis moneter ini," katanya.
Ketua Dewan Pertimbangan Agung (DPA), Sudomo, menilai
pertanggungjawaban presiden kali ini adalah yang terberat selama 30
tahun terakhir ini. (Tim Kompas)
***********************************
From: "Andi Mattalata" <>
To:
Subject: Pertanggung Jawaban Suharto (Presiden)
Date: Sun, 01 Mar 1998 03:57:05 PST
Menurut ulasan beberapa peserta SU MPR, pidato Pertanggung Jawaban
Suharto sebagai Presiden tidak menyentuh atau tidak menyinggung tentang
Korupsi, Kolusi, Nepotisme dan Praktek tidak terpuji para Pejabat.
Demikian pula ulasan tentang krisis ekonomi dan moneter yang saat ini
terjadi tidak dijelaskan secara benar. Bila diteliti dan dikaji lebih
dalam lagi banyak hal yang dilaporkan Suharto hanyalah sekedar laporan
yang dangkal, apa lagi bila dikaitkan ini adalah pidato Pertanggung
Jawaban sebagai Presiden, yang sudah berkuasa selama 5 tahun dan saat
ini belum ada tanda tanda kepulihan dari krisis yang begitu
menyengsarakan Rakyat.
Pidato Pertanggung Jawaban Suharto ini bila memang tidak layak untuk
diterima, seharusnya ditindak lanjuti oleh seluruh anggota MPR, untuk
berikutnya dinyatakan bahwa Suharto telah gagal bertindak sebagai
Mandataris MPR, dan telah menyengsarakan Rakyat, serta menumbuhkan
dengan subur Korupsi, Kolusi, Nepotisme, Kronisme dan kerusakan moral
para Pejabat. Bila ini berhasil disepakati, tentunya harus dipelopori
oleh Fraksi ABRI, dan seluruh Rakyat, maka untuk selanjutnya Suharto
tidak mungkin menjadi Presiden lagi (bahkan dapat diajukan ke
pengadilan).
Kita tunggu keberanian dari ABRI, karena yang lainnya sudah dapat
dipastikan "ayam sayur"
AM.
***********************************
Kompas Online
_________________________________________________________________
Senin, 2 Maret 1998
_________________________________________________________________
Presiden Soeharto:
Itu, Saya Namakan Konsep IMF Plus
Jakarta, Kompas
Presiden Soeharto menegaskan tidak akan ragu sedikit pun melakukan apa
saja untuk mengatasi keadaan, guna meringankan beban kehidupan rakyat
yang bertambah berat. Namun, ia juga menyatakan bahwa langkah apa pun
yang akan diambil pemerintah, tetap memerlukan dukungan Dana Moneter
Internasional (IMF) sebagai lembaga keuangan dunia yang berwibawa dan
mempunyai reputasi tinggi. "Saya meminta IMF dan para kepala
pemerintahan lainnya kiranya dapat membantu kita menemukan alternatif
yang lebih tepat. Saya namakan konsep yang lebih tepat itu konsep IMF
Plus. Saya sendiri sedang menimbang-nimbang dengan penuh ketelitian
dan kehati-hatian kemungkinan menerapkan Sistem Dewan Mata Uang,"
tutur Presiden dalam pidato pertanggungjawaban pada Sidang Umum
Majelis Permusyawaratan Rakyat (SU MPR) di Jakarta, Minggu (1/3).
Sidang yang dipimpin Ketua MPR Harmoko itu selain disiarkan langsung
RRI dan seluruh jaringan televisi dalam negeri, juga disiarkan
langsung jaringan televisi internasional, CNN. Dalam pidatonya,
Presiden lebih memusatkan perhatian pada keadaan yang diakibatkan
krisis moneter serta upaya-upaya yang telah dan akan dilakukan
pemerintah untuk mengatasinya.
Presiden menjelaskan, untuk mengatasi gejolak moneter dan keuangan itu
pemerintah telah meminta bantuan dari IMF, Bank Dunia, Bank
Pembangunan Asia dan sejumlah negara sahabat lainnya. Presiden bahkan
menyatakan telah mulai melaksanakan dan akan terus melaksanakan
program reformasi dan restrukturisasi ekonomi dan keuangan yang
mendapat dukungan IMF. Tetapi, tanda-tanda perbaikan belum tampak.
Kunci utamanya, menurut Kepala Negara, adalah stabilisasi nilai tukar
rupiah pada tingkat yang wajar. Selama ini belum tercapai, tidak dapat
melihat perbaikan keadaan dalam waktu dekat ini.
Di pundak sendiri
Menurut Presiden Soeharto, tahun 1997 merupakan tahun keprihatian bagi
Indonesia. Kecelakaan di darat, di laut dan di udara datang silih
berganti. Urat nadi perekonomian mulai terganggu. Indonesia juga
dilanda musim kering yang panjang. "Tapi kita mendapat cobaan yang
jauh lebih berat lagi. Seperti tiba-tiba, sejak pertengahan tahun lalu
gelombang gejolak moneter datang menghantam," tutur Presiden.
Kompas/arb
____________________
Jika tidak benar cara menanganinya, kata Presiden, krisis ini dapat
berkembang menjadi krisis berskala global. Langkah-langkah regional
dan internasional memang telah dilakukan. Tapi, pada akhirnya
pemecahannya terletak di tangan masing-masing negara.
"Tekad kita bulat untuk mengatasi masalah yang kita hadapi ini. Kita
akan berjuang habis-habisan untuk melepaskan diri dari krisis ini,"
ujarnya, sambil menyatakan terima kasih dan penghargaan
sebesar-besarnya kepada lembaga-lembaga internasional dan
negara-negara sahabat yang telah memberikan bantuan.
Namun, menurut Kepala Negara, di pundak sendirilah terletak beban
tanggung jawabnya. Langkah-langkah kita sendirilah yang menentukan
keberhasilan atau ketidakberhasilan kita mengatasi krisis ini. Kita
sadar, langkah-langkah itu pasti berat. Mungkin sangat berat dan
menyakitkan.
"Kita harus yakin akan kemampuan kita sendiri. Kita harus memusatkan
seluruh kekuatan kita untuk memecahkan masalah yang kita hadapi. Kita
harus ikhlas berbagi beban seadil-adilnya di antara kita sendiri,"
demikian Presiden.
Mawas diri
Sampai pertengahan tahun lalu, Presiden mengatakan, semuanya berjalan
lancar. Pembangunan berjalan mulus. Ada sejumlah sasaran Repelita VI
yang tercapai, bahkan ada yang berhasil dilampaui.
Kompas/ed
____________________
Laporan pertanggungjawaban yang lengkap dan rinci mengenai pelaksanaan
pembangunan ini termuat dalam buku tebal, yang menjadi lampiran dari
laporan pertanggungjawaban yang dibacakan itu.
"Sejak pertengahan kedua tahun lalu, gelombang gejolak moneter datang
menghantam. Seakan-akan semua yang kita bangun dengan susah payah,
kadang-kadang dengan kepedihan dan pengorbanan, tiba-tiba saja
tergoyang-goyang. Kita bukannya tidak tahu akan kemungkinan yang
ternyata datang itu," kata Presiden.
"Ternyata ketahanan ekonomi kita tidak cukup kuat menghadapi pukulan
dari luar. Di samping pengaruh luar, sebagian kesulitan yang kita
derita adalah juga karena kelemahan dalam tubuh kita sendiri," kata
Presiden, tanpa merinci lebih lanjut.
Namun dalam keadaan demikian, lanjutnya, tidak perlu mencari kambing
hitam. Juga tidak ada gunanya mencari kambing hitam. Jauh lebih
berguna kita mawas diri. Kita mencari hikmah dari musibah ini.
"Kita harus bersedia melakukan apa saja yang harus kita lakukan untuk
membebaskan bangsa dari krisis ini. Dengan penuh kesadaran kita harus
mengutamakan kepentingan nasional dan kepentingan bersama di atas
kepentingan kita masing-masing," demikian harapan Presiden.
Pada kesempatan ini Presiden menyatakan menghargai berbagai pendapat
untuk turut memecahkan persoalan. Mencari jalan keluar yang terbaik,
telah menjadi perbincangan yang luas di kalangan masyarakat. Dengan
niat baik, ia menilai positif perbincangan itu.
"Ini adalah bagian yang dinamis dari proses demokrasi kita. Artinya,
sebagai sikap melu handarbeni, rasa ikut memiliki masa depan bersama.
Dengan minat yang penuh, saya perhatikan semua pandangan yang
dikemukakan," Presiden mengungkapkan.
Ia mengajak semua pihak untuk tidak membesar-besarkan perbedaan
pandangan, apalagi yang malahan membingungkan masyarakat awam.
"Saya merasakan betapa sedihnya hati ibu-ibu rumah tangga dan
keluarga-keluarga yang berpenghasilan rendah menghadapi harga-harga
yang membumbung tinggi ini. Masyarakat gelisah. Kesalahpahaman sedikit
saja telah menyulut kerusuhan yang lebih besar. Keadaan bertambah
buruk karena ada saja mereka yang mengail di air yang sedang keruh,"
katanya.
"Pemerintah Indonesia memang sedang mengalami kesulitan ekonomi.
Tetapi saya perlu menegaskan kembali, pemerintah akan tetap memenuhi
seluruh kewajiban pembayaran kembali pokok dan bunga utang luar
negerinya secara tepat waktu," katanya.
Dikemukakan, beban pembayaran kembali utang luar negeri kita memang
berat. Tetapi, pemerintah mempunyai dana dan devisa yang cukup untuk
memenuhi kewajiban-kewajibannya.
Presiden menjelaskan, utang pemerintah menurun dari 55 milyar dollar
Amerika Serikat pada akhir Maret 1994 menjadi 54,1 milyar dollar pada
akhir Desember 1997. Sebaliknya, utang dunia usaha swasta meningkat
dari 28,3 milyar dollar menjadi 82 milyar dollar. Debt Service Ratio
(DSR) sektor swasta meningkat dari 12,8 persen pada tahun 1993/94
menjadi 27,4 persen pada tahun 1997/98. Sebaliknya, DSR pemerintah
turun dari 19,1 persen pada tahun 1993/94 menjadi 11,8 persen pada
tahun 1997/98.
Dengan meningkatnya kewajiban pelunasan pinjaman swasta pada
tahun-tahun terakhir Repelita VI ini, kata Kepala Ne-gara, maka sukar
mencapai sasaran DSR keseluruhan 24 persen pada akhir Repelita VI.
Akibat merosotnya nilai rupiah, pendapatan per kapita tahun 1997
menurun menjadi 1.089 dollar dari 1.155 dollar tahun 1996. Sebaliknya,
defisit transaksi berjalan terus meningkat dari 2,9 milyar dollar pada
1993/1994 atau 2,1 persen dari PDB menjadi 8,1 milyar dollar pada
tahun 1996/1997 atau 3,5 persen dari PDB.
"Laju inflasi juga terus meningkat. Untuk keseluruhan 1997, laju
inflasi sudah mencapai 11,1 persen dan dalam 10 bulan pertama tahun
anggaran 1997/1998 telah mencapai 16 persen," demikian Presiden
Soeharto. (Tim Kompas)
************************************
*************************************
From: KdP Net
BCC to:
Subject: D&R: "Sidang Akbar yang Tinggal Ketok Palu"
Date sent: Mon, 2 Mar 1998 11:05:25 +0700
Send reply to: [email protected]
Kabar dari PIJAR
[Image] Edisi 52/02 - 28/Feb/1998
Nasional
---------------------------------------------------------------------------
"Sidang Akbar yang Tinggal Ketok Palu"
-----------------------------------------------------------------
Sidang umum MPR yang dimulai pekan ini diramalkan akan
membosankan karena semua materi sudah selesai dibahas. Kecuali
bila pencalonan Emil Salim ditanggapi.
-----------------------------------------------------------------
TAK tampak kesibukan berarti di gedung DPR/MPR meskipun
perhelatan besar sidang umum (SU) MPR tinggal hitungan hari. Yang
terlihat hanyalah tukang
tukang yang sibuk membersihkan gedung yang mulai 1-11 Maret
mendatang bakal jadi pusat perhatian orang itu. Tak juga tampak
pengamanan yang berlebih. Kegiatan di gedung wakil rakyat itu
kelihatan berjalan seperti biasa.
Kegiatan fisik sidang umum mungkin baru terlillat Rabu pekan ini,
25 Februari, di saat 1.000 anggota MPR dan 250 orang peninjau
mulai masuk ke hotel-hotel yang ditentukan: Hotel Indonesia dan
President (untuk anggota Fraksi Karya Pembangunan/FKP), Sari Pan
Pacific (Fraksi ABRI dan Fraksi Partai Demokrasi
Indonesia/F-PDI), dan Sahid Jaya (Fraksi Persatuan
Pembangunan/F-PP dan Fraksi Utusan Daerah/FUD). Saat itulah,
aktivitas pengamanan akan berjalan. Pasukan Komando Operasi Jaya
yang berjumlah 25 ribu personel akan berjaga penuh, mulai dari
tempat penginapan dan terutama di gedung DPR/MPR yang akan jadi
tempat pemilihan dan pengambilan sumpah presiden dan wakil
presiden mendatang.
Tapi, sebenarnya, tanpa banyak pemberitaan -- entah karena takut
atau karena media massa sudah kembang kempis -- penjagaan untuk
perhelatan ini sudah dilakukan jauh sebelumnya. Lebih tepatnya,
aparat melakukan aksi bersih-bersih. Maka, tanpa KTP, para
pendatang dari daerah banyak yang tak bisa lolos dari
terminal-terminal bus. Aktivis prodemokrasi pun banyak yang
ditangkapi, malah beberapa di antaranya tak jelas keberadaannya
hingga kini (lihat: Repotnya Mengawal Wakil Rakyat). Namun,
sebenarnya yang lebih mereka takutkan adalah tersebarnya isu-isu
yang kini lebih dipercaya masyarakat. Seperti awal pekan ini
beredar selebaran gelap yang mengajak masyarakat kecil datang ke
gedung DPR/MPR untuk menerima pembagian sembilan bahan pokok
(sembako). Isu ini tak berlanjut, mungkin karena sudah adanya
ancaman dari Pangdam Jaya Mayjen Sjafrie Sjamsuddin yang akan
menindak siapa saja pengunjuk rasa yang turun ke jalan.
Ancaman yang dikeluarkan bersamaan dengan larangan kumpul
seminggu sebelum dan sesudah sidang umum ini adalah salah satu
persiapan aparat untuk menjaga agar perhelatan ini bisa mulus.
Selain itu, berbagai persiapan lain juga sudah dilakukan oleh
pihak DPR/MPR. "Semua bahan dari Badan Pekerja (BP) MPR sudah
diterima anggota MPR," kata Sekjen DPR/MPR Afif Ma'roef. Bahan
yang dimaksud adalah tentang Garis-Garis Besar Haluan Negara
(GBHN) dan non-GBHN yang sudah dibahas BP MPR sejak tiga bulan
lalu.
Sayang, Afif menolak memberitahu berapa biaya yang harus
dikeluarkan negara untuk kegiatan ini. Lima tahun lalu, dana yang
dikeluarkan mencapai Rp 11 miliar, yang antara lain dipakai untuk
membayar uang makan tiap anggota Rp 75 ribu/hari, uang kehormatan
untuk anggota MPR sebesar Rp 500 ribu, dan uang sidang Rp 165
ribu. Kini, dengan kurs dolar yang menguat, bisa dipastikan
biayanya akan membengkak karena hotel-hotel berbintang yang
ditempati mematok tarir dalam dolar. Dan, tarif mereka tak
main-main. Harga kamar di Hotel President berkisar antara US$ 143
(single) sampai US$ 600 (presidential suite) dan seluruh kamar di
sana sudah fullly broked untuk para anggota MPR itu. Harga
presidential suite di tiga hotel lain malah jauh lebih mahal
sampai US$ 4.000 di Hotel Sahid. Kalau Anda mau tahu biayanya,
tinggal kalikan saja jumlah kamar dengan jumlah hari dan kurs
dolar yang berlaku saat itu.
Tinggal Ketok Palu
Tentu, biaya sebesar itu tak bisa dibandingkan dengan perhelatan
akbar yang selalu ditunggu orang karena diharapkan bisa
menentukan arah perjalanan bangsa ini. Sayangnya, harapan orang
kali ini, agar SU MPR membawa angin demokratisasi, kelihatannya
terlalu berlebihan. Maka, tak salah kalau timbul anggapan miring
bahwa kegiatan ini hanyalah pemborosan uang yang tak seharusnya
dilakukan pada saat krisis moneter seperti sekarang. Soalnya, SU
MPR kali ini ibarat sidang, sudah tinggal ketok palu saja.
Jangan harap bakal ada perdebatan atau adu argumentasi antar-para
anggota MPR yang akan menghidupkan iklim demokratis di
ruang-ruang wakil rakyat itu. Apalagi harapan bakal ada voting,
suatu hal yang sebenarnya sah menurut konstitusi, tapi selalu
dianggap cacat karena menelurkan keputusan yang "benjol".
Soalnya, harap maklum, segala materi penting untuk perhelatan itu
praktis sudah selesai. Arena SU hanya tinggal mengesahkan saja
GBHN, 14 rancangan keputusan, dan 13 rancangan ketetapan yang
sudah selesai dibahas di BP MPR.
Dengan anggota-anggota MPR yang makin tak "bergigi" -- sebagian
karena pengaruh nepotisme, yang lain karena takut kehilangan
kursinya -- tak ada lagi anggota fraksi yang berani ngotot
mempertahankan pendapatnya dalam forum BP sehingga satu materi
bahasan harus di-pending dari B P dan perlu dibawa ke SU. F-PP
yang sejak beberapa periode lalu selalu mempermasalahkan aliran
kepercayaan, misalnya, kini menerima saja ketika aliran
kepercayaan ini dimasukkan dalam bab "agama" dan bukan "budaya"
seperti permintaannya.
Satu-satunya materi yang sempat mengganjal selama pembahasan BP
adalah tentang pemilu. Namun, soal ini pun tak akan jadi
pembahasan dalam SU, soalnya hanya menjadi "catatan" di BP MPR.
Padahal, dalam beberapa SU sebelumnya, dua fraksi gurem, F-PDI
dan F-PP, sempat mempertahankan pasal ini mati-matian. Aisyah
Aminy, salah satu Ketua DPP PPP mengakui fraksinya tidak ngotot
memperjuangkan materi pemilu yang mereka inginkan agar partai
sampai ke tingkat desa. "Memang, ada hal-hal yang belum maksimal
bagi partai, tapi dalam keadaan seperti ini kita harus
pandai-pandai agar SU tidak menyebabkan hal-hal yang menjadikan
keresahan," ujarnya kepada Republika.
Amien Rais Realistis
Tampaknya, dengan materi anggota MPR yang tak berani berinisiatif
ditambah sikap tak mau bikin keresahan itulah, maka para anggota
MPR dari kelima fraksi sudah memutuskan calon presiden dan wapres
pilihannya, tiga pekan sebelum SU dimulai. Biasanya, nama-nama
ini baru beredar menjelang SU ditutup. Golkar bahkan sudah
mencalonkan Presiden Soeharto sejak ulang tahunnya pada Oktober
tahun lalu, tapi Presiden baru menyetujui usulan Keluarga Besar
Golkar (KBG) itu akhir Januari lalu. Saat itu, KBG menyebutkan
kriteria yang mereka inginkan untuk wapres, yaitu 15 kriteria
pokok yang ada dalam ketetapan MPR ditambah 14 kriteria tamhahan.
Menristek B.J. Habibie dianggap sehagai calon yang paling tepat,
terutama dalam kriteria: memahami ilmu pengetahuan dan teknologi.
Walau begitu, Golkar sempat mencuatkan dua calon, Habibie dan
Harmoko. Tapi, dengan mengucap legowo (ikhlas), Harmoko
menyatakan memberikan kesempatan kepada Habibie. Dalam waktu yang
tak terlalu lama, fraksi-fraksi lain, F-PP, FPDI, F-UD, dan
terakhir F-ABRI ikut mendukung Habibie yang pada periode ini
menjabat sebagai koordinator pelaksana harian Dewan Pemhina
Golkar.
Perdehatan tentang wapres yang sejak hcbcrapa bulan sebelumnya
meramaikan bursa orang nomor dua itu kontan berhenti. Selama ini,
Wakil Ketua F-UD Poedjono Pranyoto menyatakan sudah menerima 14
nama wapres yang diusulkan masyarakat. Orang banyak menaruh
harapan kepada Ketua Badan Perencanaan Pembangunan Nasional
Ginanjar Kartasasmita atau Menteri Koordinator Produksi dan
Distribusi Hartarto yang sama-sama dianggap memenuhi kriteria
KBG. Namun, belum lagi nama Habibie muncul, entah kenapa Ginanjar
menyatakan tak bersedia dicalonkan. Tindakan yang sama kemudian
diikuti oleh Try Sutrisno, salah satu calon yang banyak
pendukungnya, yang menganggap jabatan wapres cukup satu periode
saja.
Munculnya dua nama ini juga membuat nama Amien Rais dan Megawati,
dua tokoh yang sudah mencalonkan diri menjadi presiden dan sempat
mcnghangatkan panggung politik Tanah Air, seperti tenggelam.
Anggapan ini ditolak oleh Amien Rais. "Saya tidak loyo, hanya
tidak ingin menjerumuskan adik-adik yang mendukung saya ke suatu
aksi yang counter produktif," kata Amien yang tidak percaya
demokrasi yang ia tegakkan harus melalui kekerasan.
Ketua PP Muhammadiyah itu juga mengaku sikapnya realistis.
Bagaimana tidak, ada 25 ribu pasukan yang akan mengamankan SU,
sementara anak muda yang berani berdemonstrasi cuma ratusan.
"Kalau demikian, lantas hanya jadi dagelan Mataram. Tidak ada
gunanya," ujarnya. Kelihatannya, akibat terlalu lama terkungkung
oleh aturan Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi
Kemahasiswaan, mahasiswa sekarang tak punya nyali untuk turun ke
jalan untuk memperjuangkan haknya. Akhirnya, yang dilakukan oleh
sebagian dari mereka adalah mengadakan jajak pendapat tentang
kepemimpinan nasional. Ini misalnya dilakukan oleh Gerakan Rakyat
untuk Perubahan (GRUP) di Solo yang membuat 25 ribu lembar
kuesioner. Hasilnya, dari hampil 17 ribu responden, 92 persen
tidak setuju Soeharto dicalonkan kembali.
Fenomena Emil Salim
Tapi, ya, aksi mereka cuma sampai di situ. Apa itu lalu berarti
SU dan pergantian presiden yang kali ini amat krusial mengingat
usia dan kesehatan Soeharto akan lancar seperti mobil di jalan
tol? Nanti dulu, di saat-saat terakhir ada gerakan baru yang
memheri harapan SU bisa lebih demokratis dan penuh dengan warna
politik. yaitu masuknya nama Emil Salim, mantan Menteri
Kependudukan dan Lingkungan Hidup, sebagai calon wapres.
Fenomena Emil ini unik. Tak ada organisasi besar yang berdiri di
belakangnya, meskipun ia masih tercatat sebagai anggota Dewan
Penasihat lkatan Cendekiawan Muslim se-lndonesia. Pendukungnya,
yang kini kabarnya sudah mencapai 10 ribu orang, seluruhnya
orang-orang independen yang berasal dari berbagai profesi. Salah
satu pendukungnya, Nurcholish Madjid, melihat Emil mencerminkan
ide-ide demokrasi karena orangnya terbuka, egaliter, dan
dialogis.
Emil sendiri yang kini sibuk berkeliling mengaku tak mencari
kedudukan. "Tapi, mencoba menumbuhkan gagasan agar rakyat juga
mampu berbicara lima tahun sekali dalam forum MPR," katanya.
Mantan birokrat yang bersedia dicalonkan asalkan konstitusional
itu juga mengikuti jalur yang ditetapkan oleh undang-undang.
Jalur konstitusional ini sebenarnya juga dilakukan pendukung
Amien Rais dan Megawati yang surat dukungannya sudah sampai ke
MPR, tapi tak pernah dilakukan oleh Berar Fathia, seorang anggota
PDI yang mencalonkan diri sebagai presiden, dan Sri-Bintang
Pamungkas yangsudah memproklamasikan pencalonannya sebagai
presiden, dua tahun lalu. Namun, pemasukan nama Emil oleh Gerakan
Masyarakat Madani, tim sukses Emil Salim, menarik perhatian
karena hanya dua pekan sebelum SU MPR dimulai, sudah dua kali
mereka memasukkan pencalonan namanya ke MPR dengan dukungan yang
terus bertambah.
Pemasukan nama pada saat seperti ini bukanlah hal yang salah
karena baru pada 8 Maret mendatang, fraksi-fraksi di MPR
menyebutkan wapres pilihannya. Namun, pagi-pagi masuknya nama
bekas birokrat yang dikenal jujur dan tak kenal korupsi ini
rupanya bikin sewot beberapa petinggi F-KP. Padahal, tak seperti
pencalonan H.J Naro dalam SU MPR 1988 yang sudah sampai ke fraksi
di MPR, pencalonan Emil ini masih amat dini. "Cara ini tidak
membantu pendidikan politik, tapi malah jadi kendala karena
fiaksi-fraksi sudah memutuskan. Sebagai kader Golkar mestinya
mengerti mekanisme yang ditempuh Golkar," ujar Wakil Ketua
DPR/MPR dari F-KP Abdul Gafur.
Belakangan, setelah melihat ancamannya tampak tak mempan, bekas
menteri yang namanya baru muncul kembali belakangan ini
mengeluarkan jurus pamungkas. Bahwa anggota Golkar yang tak
memilih calon yang sudah disepakati, dianggap bukan anggota
Golkar dan akan mendapat sanksi. Kabarnya, untuk mencegah
pembelotan, Golkar juga akan membuat kartu absensi -- yang jelas
harus ditandatangani anggota -- dengan kop bertuliskan "Mendukung
Soeharto & Habibie". Upaya ini tampaknya perlu mereka lakukan
karena mungkin saja ada anggota F-KP yang membelot. Adalah Indra
Bambang Oetojo, anggota F-KP. yang pertama mencuatkan nama Emil
Salim itu. Bahkan, Albert Hasibuan, salah seorang Ketua DPP
Golkar, termasuk salah seorang yang mencantumkan tanda tangannya
untuk mendukung Emil. "Ia mempunyai konsep menyelesaikan
kesulitan ekonomi," begitu alasannya.
Tindakan Abdul Gafur tersebut tampak berlebihan dalam suasana
yang mendorong iklim demokratisasi seperti yang seorang
digalakkan. Nurcholis lalu mengingatkan bahwa ketika 10 tahun
lalu Naro mencalonkan diri sebagai wapres, masih dianggap
skandal, tapi kini banyak calon wapres yang masuk dan tak jadi
persoalan. "Jadi, ada grafik naik dalam soal demokrasi itu,"
katanya. Presiden Soeharto sendiri pun ketika memberikan
komentarnya tentang SU MPR 1988 -- di mana ada pencalonan Naro
dan interupsi lbrahim Saleh -- menganggap kegiatan itu lebih
hidup, dinamis, dan dikenang orang. "Keputusan yang diambil dan
cara-cara mengambil keputusan akan dicatat oleh sejarah politik
dan ketatanegaraan kita," ujar presiden dalam pidato
pelantikannya tahun 1988.
Kalau presiden sendiri berkomentar begitu, lalu mengapa
ketua-ketua fraksi begitu ngotot mempertahankan dua nama yang
dicalonkan? Jangan-jangan karena memang sudah ada pesan sponsor
dari atas? Jika memang benar begitu, rupanya skenario pimpinan
nasional sudah digariskan. Yang masih ditunggu orang adalah
apakah presiden dalam pidato pelantikannya nanti akan mengucapkan
kalimat, "lnsya Allah, tugas kepresidenan akan saya laksanakan
sepenuhnya selama lima tahun mendatang", seperti yang dilakukan
10 tahun lalu. Kalau tak ada, ya, sejak sekarang kita bisa
menebak siapa pimpinan negara kita mendatang.
Laporan Achmad Nur S., Andreas A. Purwanto, Ate, J. Primus,
Rachmat H. Cahyono, Tiarma Siboro, Dwi Arjanto, dan L.N. Idayanie
Majalah D&R, 28 Februari 1998
---------------------------------------------------------------------------
[Image] Copyright (c) PDAT
*******************************
Received on Thu Mar 5 02:54:08 MET 1998
Kabar dari PIJAR
From: Aliansi Jurnalis Independen [mailto:[email protected]]
Sent: Wednesday, March 04, 1998 4:13 AM
AJInews EDISI SELASA 3 MARET 1998
PERTANGGUNG-JAWABAN SOEHARTO
DITUNTUT DI IAIN YOGYAKARTA
YOGYAKARTA (AJInews, 3/3/98)-- Sekitar 500 orang mahasiswa
dan dosen Kampus IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, kembali menggelar
aksi keprihatinan menuntut pertanggungjawaban Presiden Soeharto,
Selasa, 3/3/98. Aksi yang digelar sejak pukul 09.00 WIB hingga tengah
hari ini digelar oleh Komitee Aksi Keprihatinan Nasional Masyarakat Putih,
terdiri atas seluruh organisasai intra dan ekstra mahasiswa IAIN Suka.
Sebuah spanduk besar dibentangkan: "Menuntut Pertanggung-jawaban
Rezim Orde Baru di bawah Suharto."
Aksi yang berlangsung di tangga Masjid IAIN ini digelar dua buah spanduk
besar berwarna putih bertuliskan "Pertanggungjawaban Amanat Penderitaan
Rakyat", dan berwarna merah bertuliskan "Rakyat Butuh Beras Bukan Peluru".
Selain itu sebuah poster kecil bertuliskan "Turunkan Soeko (Soeharto dan
Sembako, red.)".
Menurut koordinator aksi, Hilman Latief, akibat krisis ekonomi ini telah
menyebabkan rakyat kelaparan dan antre sembako. Rakyat kecil yang selalu
menjadi korban pembangunan ini keadaannya makin mengenaskan.
Apalagi, para buruh yang mengalami PHK, mereka makin menderita
karena tidak kuat membeli bahan makanan yang harganya makin melangit.
"Kami menuntut penyediaan sembako dan turunnya harga. Jangan sampai
sembako berarti kesempatan bakar toko atau kesempatan bakar Kodim,"
kata mahasiswa jurusan Syariah IAIN Suka ini.
Ironisnya, kata Hilman, pemerintah tidak mempedulikan nasib rakyat dan
malah memperdebatkan antara CBS dan IMF. Bahkan menurut Hilman Latief
sambil mengutip Majalah Forbes, kemiskinan rakyat tidak sepadan dengan
kekayaan Presiden Suharto sebagai orang terkaya ketiga di dunia, dengan
asset 16 milyar US Dollar atau 160 triliun (kurs Rp. 10.000). "Kami menolak
Suharto menjadi Presiden. Ini untuk perbaikan rakyat," kata Hilman yang
juga penggerak Golput 1997 ini.
Aksi ini mendapat tanggapan luas dari masyarakat. Tidak hanya mahasiswa
dan penduduk daerah sekitar kampus yang antusian mendukung para mahasiswa,
tapi juga para pedagang, tukang becak dan anak-anak kecil. Mereka juga
bersama-sama meneriakkan,"Turunkan Sembako, turunkan Soeharto."
Seorang tukang becak berteriak: "Turunkan harga, kami bisa mati kelaparan.
Sidang Umum menghamburkan uang saja."
Tak ketinggalan pula, para dosen di lingkungan IAIN juga bersemangat
mengambil bagian dalam demonstrasi tersebut. Dr Abdul Munir Mulkan,
kolumnis dan pengamat sosiologi agama, yang biasanya sangat tenang dan
sabar, kelihatan juga sangat gregetan dengan rezim Suharto. "Menyuarakan
aspirasi dan memprotes pemerintahan Orba ini hukumnya wajib. Saya tidak
kuat lagi melihat keadaan rakyat kecil yang antri sembako," kata dosen IAIN
Suka yang juga mengajar di UGM.
Begitu pula, Dr Malik Madani dosen IAIN Suka yang berkali-kali menyerukan
kepada masyarakat intelektual untuk tidak hanya diam di tempat saja, tapi
juga harus berani bersuara terhadap krisis ini. "Tidak ada kata lain
melihat keadaan ini, kita harus turun," kata Dr Malik Madani.
Aksi yang dijaga ketat aparat dari Garnisun Yogyakarta, kepolisian dan
Kodim ini berakhir pada pukul 12.00 WIB. Dalam pernyataan sikapnya, mereka
menyerukan kepada seluruh kalangan intelektual untuk menyuarakan kegetiran
masyarakat dan menuntut pemerintah menurunkan harga sembako. Selain itu,
memaksa pemerintah melakukan reformasi politik dan ekonomi, dan jangan
menganggapi kerusuhan sosial dengan pendekatan kekerasan.
Pada saat yang sama, pukul 09.00 WIB, kampus Fakultas Ekonomi Universitas
Islam Indonesia (UII), menggelar demonstrasi. Aksi yang mengatasnamakan
Keluarga Mahasiswa untuk Demokrasi (KMUD) UII ini, diikuti sekitar 100
mahasiswa di lingkungan UII. Aksi ini mendapat sambutan meriah dari para
mahasiswa dan para dosen FE UII.
Dalam pernyataan sikapnya, mereka menghimbau semua lapisan masyarakat
bersama-sama menuntut reformasi ekonomi dan politik. Selain itu, menyerukan
kepada pemerintah untuk memperhatikan penderitaan rakyat akibat krisis ini.
"Kalau ini tidak dipenuhi, tidak ada cara lain, Orde Baru harus
ditumbangkan secara paksa," kata Wijarko, aktifis (KMUD) ini.
Sementara aksi mogok makan yang dilakukan 7 orang mahasiswa Fakultas
Filsafat UGM, masih terus berlangsung, meskipun tenda mogok makan mereka
telah disita oleh aparat kepolisian. Dukungan terhadap para pemogok makan
ini terus bertambah. 1 Maret lalu, seorang mahasiswa Timor Timur ikut
bergabung dalam aksi mogok makan ini.***
----------------------------------------------------------------------
ALIANSI JURNALIS INDEPENDEN
Alliance of Independent Journalists
Jl. PAM Baru Raya 16, Pejompongan,
Jakarta, Indonesia
Tel/Fax : (62-21) 5727018
E-mail : [email protected]
----------------------------------------
AYO SELAMATKAN INDONESIA!
untuk Indonesia yang menjamin hak atas kebebasan pers,
hak masyarakat untuk memperoleh informasi,
hak masyarakat untuk mengetahui apa yang terjadi
*************************************
Received on Thu Mar 5 03:42:50 MET 1998
Kabar dari PIJAR
From: Aliansi Jurnalis Independen [mailto:[email protected]]
Sent: Wednesday, March 04, 1998 6:20 AM
AJInews EDISI SELASA 3 MARET 1998
PANDANGAN UMUM KIPP-HAM ATAS PERTANGGUNG-JAWABAN SOEHARTO
JAKARTA (AJInews, 3/3/98)-- Pidato pertanggung-jawaban presiden Soeharto
terus mengundang kritik dari berbagai kalangan. Selasa siang tadi Komite
Indonesia untuk Pencegahan Pelanggaran Hak Asasi Manusia (KIPP-HAM),
mengeluarkan pula pernyataan yang menolak pidato presiden yang disampaikan
1 Maret lalu.
KIPP-HAM, yang unsur pendukungnya terdiri dari Unsur Pendukung: YLBHI,
KIPP, AJI, LAPASIP, PIPHAM, ELSAM, mengeritik para anggota MPR, yang
melalui fraksi mereka masing-masing, pagi-pagi sudah menyatakan akan
menerma baik pertanggung-jawaban Soeharto. Padahal terlalu banyak hal yang
mengandung pertanyaan dari pidato itu.
Berikut ini teks lengkap pernyataan KIPP-HAM
----------------------------------------------------------------------
KOMITE INDONESIA untuk PENCEGAHAN PELANGGARAN HAK
HAK ASASI MANUSIA (KIPP-HAM)
(INDONESIAN COMMITTEE for THE PREVENTION OF HUMAN
RIGHTS VIOLATION)
Unsur Pendukung: YLBHI, KIPP, AJI, LAPASIP, PIPHAM, ELSAM
Jl. SMEA Vl126, Cawang, Dewi Sartika, Jakarta Timur
Telp/Fax: 62-21-8095750
SIARAN PERS
Tentang:
PANDANGAN UMUM ATAS PIDATO PERTANGGUNGJAWABAN
PRESIDEN/MANDATARIS MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT
REPUBLIK INDONESIA
Sehubungan dengan Pidato Pertanggungjawaban
Presiden/Mandataris MPR RI di hadapan SU MPR Rl
tanggal 1 Maret 1998, maka sebagai wujud partisipasi
politik dan tanggung jawab warganegara, kami
menyampaikan pandangan-pandangan umum sebagai berikut:
Pertama, MPR RI sebagai pemegang kekuasaan negara
tertinggi yang mengangkat Presiden serta menetapkan
Garis-garis Besar Haluan Negara yang kemudian
dijalankan oleh Presiden, harus secara
sungguh-sungguh melakukan penilaian, mengambil sikap
dan membuat putusan terhadap pertanggungjawaban
Presiden Soeharto selama memangku jabatannya
berdasarkan Ketetapan MPR RI, Nomor IV/MPR 1993
tentang Pengangkatan Presiden RI.
Parameter Penilain, pengambilan sikap dan pembuatan
keputusan secara formal. Konstitusional adalah
keseluruhan GBHN 1993, dengan tidak mengabaikan
parameter politik berupa tuntutan dan aspirasi sosial
politik yang hidup dalam masyarakat.
Dalam GBHN 1993 telah ditetapkan tujuan, sasaran
umum, dan prioritas pembangunan lima tahun ke enam,
serta sasaran-sasaran ke tujuh bidang pembangunan
nasional yang meliputi (1) ekonomi, (2) kesejakteraan
rakyat, pendidikan dan kebudayaan, (3) agama dan
kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, (4) ilmu
pengetakuan dan teknologi, (5) hukum, (6) bidang
politik, Aparatur Negara, penerangan, komunikasi dan
media massa, serta (7) pertahanan keamanan.
Pidato Pertanggungjawaban Presiden/Mandataris MPR Rl
tanggal 1 Maret 1998, lebih merupakan semacam
"progress report" bersifat umum, dan tidak mencakup
substansi menyeluruh ke tujuh tujuan bidang
pembangunan nasional tersebut di atas.
Kedua, secara khusus di bidang hukum seharusnya
Presiden/Mandataris MPR RI dapat
mempertanggungjawabkan seberapa jauh sasaran bidang
pembangunan hukum lima tahun ke enam telah tercapai,
dan bagaimana dalam pelaksanaan kekuasaan negara
nilai serta prinsip negara yang berdasar atas hukum
(Rechtsstaat) telah dijalankan.
Masih banyak produk hukum yang ditinjau dari prinsip
legitimasi historis dan standar-standar hak asasi
manusia tetap berlaku, bahkan semakin banyak
diterapkan terutama pasca Peristiwa 27 Juli 1996 yang
memperlihatkan adanya peningkatan frekuensi
penggunaan UU Tindak Pidana Subversi, UU tentang
Kegiatan Politik, pasal-pasal "penyebar kebencian",
dan dengan begitu juga menunjukkan bertambahnya
terpidana politik.
Tidak kurang pula jumlahnya agenda pembangunan hukum
nasional yang belum terpenuhi, seperti pembaharuan
KUHP, UU Perlindungan Konsumen dan lain-lain, di
samping masih belum teragendakannya
perundangan-undangan yang mengefektifkan proteksi hak
asasi manusia. bMasih harus dipertanggungjawabkan
pula persoalan-persoalan besar yang muncul dalam
penegakan hukum yang sempat menjadi sorotan publik.
Ketiga, oleh karena menurut penjelasan UUD 1945
ditegaskan bahwa Presiden RI adalah penyelenggara
pemerintahan negara tertinggi, dan dalam menjalankan
pemerintahan negara kekuasaan dan tanggung jawab di
tangan Presiden (concentration of power and
responsibility up on the President) maka harus
dipertanggungjawabkan pada berlangsungnya sejumlah
peristiwa politik yang pada dasarnya mencerminkan
penyimpangan konstitusional dalam lima tahun
terakhir, seperti kasus pembredelan Tempo, Editor dan
Detik, serta berbagai bentuk intervensi kekuasaan
terhadap kebebasan pers. Tragedi berdarah 27 Juli
1996, intervensi mendalam atas kemandirian partai
politik, kekerasan politik dan kecurangan sistematik
(systematic trand) pada masa pemilihan umum tahun
1997, kurang berfungsinya mekanisme dan kelembagaan
politik sebagai sumber terjadinya
kekerasan kolektif dalam dua tahun terakhir dan
lain-lain.
Secara umum, dalam dua tahun terakhir telah terjadi
lebih banyak peristiwa pelanggaran hak-hak sipil dan
politik, utamanya dalam penyelenggaraan Pemilu.
Dalam Pidato Pertanggungjawaban Presiden/Mandataris
MPR RI tidak dipaparkan pada
perkembangan aparatur negara guna memberikan gambaran
jelas mengenai fungsi dan peranan aktualnya dalam
pembangunan bangsa.
Masalah aparatur negara penting untuk
dipertanggungjawabkan mengingat banyaknya kritik
tentang korupsi, kolusi, monopoli, oligopoli dan
nepotisme yang menambah parah krisis nasional, di
samping kritik-kritik mengenai korupsi yang
dikomunikasikan oleh lembaga-lembaga studi
mancanegara seperti Transparency International
Political and Economic Risk Counsultancy.
Dalam bidang pembangunan politik. Aparatur negara,
penerangan, komunikasi dan media massa, pidato
pertanggungjawaban Presiden/Mandataris MPR RI tidak
menyinggung tentang nasib yang dialami pers nasional,
baik yang berkaitan dengan restriksi politik maupun
ancaman atas kelangsungan hidup akibat melonjaknya
harga ke atas.
Ancangan politik ke depan nampaknya tidak menyiratkan
kemungkinan ditempuhnya reformasi politik sebagai
langkah untuk pada jangka pendek mengatasi krisis
kepercayaan, dan pada jangka lebih jauh memulihkan
legitimasi (relegitimasi) politik sebagai prasyarat
strategis pembangunan nasional .
Keempat, indikator-indikator kesejahteraan rakyat
lebih digambarkan dalam bentuk kuantitatif, sementara
secara kualitatif perlu dikaji seberapa jauh hak-hak
sosial-ekonomi rakyat sudah dipenuhi, dan bagaimana
krisis-krisis ekonomi nasional telah menimbulkan
dampak luas bagi penurunan kualitas kehidupan rakyat,
khususnya di lapisan menengah ke bawah.
Kelima, dalam rangka pelaksanaan fungsi dan otoritas
MPR RI sebagai pemegang kedaulatan rakyat dan
pemegang kekuasaan negara tertinggi sebagaimana
ditegaskan dalam UUD 1945, sudah seharusnsya MPR RI
tidak begitu saja mengeluarkan ketetapan yang
"menerima sepenuhnya dengan baik pertanggungjawabkan
Presiden RI" sebagaimana tercantum dalam Ketetapan
MPR RI tentang Pertanggungjawaban Presiden RI tahun
1998, seperti juga yang terjadi dalam masa
persidangan MPR RI sebelumnya dengan dikeluarkannya
TAP MPR RI Nomor III/MPR/1993 tentang
Pertanggungjawaban Presiden RI Soeharto selaku
Mandataris MPR RI. MPR RI, diharapkan dapat mengkaji
dan menguji Pidato Pertanggungjawaban Presiden/
Mandataris MPR RI tersebut secara kritis dan penuh
rasa tanggungjawab nasional bertolak dari
parameter-parameter konstitusional serta politik yang
ada.
Adalah pada tempatnya pemikiran-pemikiran yang
berkembang dalam pembahasan di MPR RI atas Pidato
Pertanggungjawaban itu dilakukan secara dialogis
dengan kehadiran langsung Presiden/Mandataris MPR RI.
Mekanisme pertanggungjawaban ini mencerminkan fungsi
serta otoritas MPR RI serta etika politik nasional
sebagaimana diamanatkan oleh konstitusi dan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 TAP No. I/1983.
Jakarta, 3 Maret 1998
Penandatangan,
HJC. Princen (LPHAM)
Mulyana W Kusumah (Sekjen KIPP Indonesia)
Aderita De Jesus Soares (ELSAM)
Dadang RHs (Sekretaris AJI)
N Wirakusumah (Pipham)
Agus Edi Santoso (Lapasip)
Dadang Tri Sasongko (YLBHI)
----------------------------------------------------------------------
ALIANSI JURNALIS INDEPENDEN
Alliance of Independent Journalists
Jl. PAM Baru Raya 16, Pejompongan,
Jakarta, Indonesia
Tel/Fax : (62-21) 5727018
E-mail : [email protected]
----------------------------------------
AYO SELAMATKAN INDONESIA!
untuk Indonesia yang menjamin hak atas kebebasan pers,
hak masyarakat untuk memperoleh informasi,
hak masyarakat untuk mengetahui apa yang terjadi
*******************************************
*************************************
Received on Thu Mar 5 06:04:57 MET 1998
Kabar dari PIJAR
Jakarta Post, 2 March 1998
Presidential accountability speech incomplete: PPP, PDI
JAKARTA (JP): The two minority parties criticized President
Soeharto's account of his last five years of leadership as
incomplete and suggested improvements yesterday.
United Development Party (PPP) chairman Ismail Hasan Metareum and
Indonesian Democratic Party (PDI) chairman Soerjadi separately
said the President failed to include in his speech certain
strategic issues, including the need for political reform.
"What has been achieved in the political sector (over the past
five years) is far below our expectations, " Ismail, better known
as Buya, told reporters after the opening of the General Session
of the People's Consultative Assembly (MPR) yesterday.
Two PPP legislators, Hamzah Haz and Muhammad Buang, shared
Ismail's view.
"The President's accountability speech was focused on economic
reform only, while economic problems cannot be separated from
politics," Hamzah said.
"Economic reform should go hand in hand with political reform,"
Buang said.
Soerjadi said Soeharto's accountability speech failed to discuss
existing mismanagement in the government.
"The account was incomplete because it discussed mostly the
country's success in development programs," he said. "The account
did not touch on government officials' corruption and collusion,
or business monopolies."
He said the PDI faction had begun preparing its response to the
presidential accountability speech He declined to explain the
faction's final stance.
Golkar legislator Pinantun Hutasoit said there would be no reason
for his faction to reject the President's account of leadership.
"The House of Representatives (DPR) has never rejected President
Soeharto's yearly speech on the State Budget. As it is, we will
also accept the President's account of leadership," he said.
Hasan Basri Durin, chairman of the regional representatives
faction, also stated his faction's readiness to accept Soeharto's
account.
"The accountability speech was sincerely, objectively and
straightforwardly prepared by President Soeharto," he said. "(My)
faction will accept it unconditionally."
He said the President had given a balanced report of progress
achieved by the country over the past five years -- his report
not only disclosed success in development programs, but also in a
number of problems, including the monetary crisis facing
Indonesia.
Asked whether it had been necessary for Soeharto to publicly
express regret over the prolonged monetary crisis, Hasan said the
President should not solely be blamed for the crisis.
"This is the responsibility of all Indonesians," he said.
Hari Sabarno, chairman of the Armed Forces faction at the
Assembly, said his faction had yet to discuss its stance, but he
was confident members would accept Soeharto's account.
"We have renominated Pak Harto for the next presidency. Why would
we reject his account?" he asked.
The five factions will deliver their overview of Soeharto's
account tomorrow.
Meanwhile, former vice president Sudharmono said he understood if
it took the government a long time to remedy the economy.
"The government could not overcome the crisis within a day or
two," he said "Unlike magical tricks, economic reform cannot be
carried out except in phases."
"What is important is that there should be progress in the
development program," he said.
Separately, Armed Forces Chief Gen. Wiranto said it was not the
right time to pass the buck for the economic crisis.
He said the crisis had taken place because of globalization and
trade liberalization.
"Whether we like it or not we have to bear all the risks of such
a globalized economy," he said. "And we have had to suffer
greater losses than we anticipated.
"What we now need is to stay united to survive the monetary
crisis," he said. (imn/byg)
***********************************